ENDY M BAYUNI : IT’S VERY A NOBEL PROFESSION  

 

Minggu (3/2), Launching dan bedah buku “BLUR” , serta bedah hasil survei Pantau : Persepsi Wartawan Mengenai Agama. Lelaki itu duduk diantara tamu undangan dibarisan pertama. Ia mengenakan  kemeja abu-abu gelap dengan celana panjang hitam serta berkacamata. Lelaki kelahiran 3 Mei 1957 itu adalah salah satu diantara 3 pembedah yang hadir. Endy Mouzardi Bayuni, sekarang ia menjabat sebagai senior editor The Jakarta Post. Sebelumnya ia juga pernah diangkat menjadi Pimpinan Redaksi pada tahun 2004 disuratkabar berbahasa Inggris tersebut.  Sudah 30 tahun bergelut di dunia Jurnalistik, baginya ini adalah sebuah profesi yang mulia bagaimana kita bisa melayani publik. Tahnia Dwi Sari mendapat kesempatan untuk menggali seputar pengalaman Endy didunia Jurnalistik, perkembangan The Jakarta Post, serta bagaimana penulisan suratkabar berbahasa Inggris dibanding suratkabar berbahasa Indonesia. Berikut petikan wawancaranya.

 

Bagaimana perkembangan Pers pada masa orde lama dan orde baru menurut anda ?

Orde lama saya belum mengalami..he-he-he.. Saya masuk Jurnalistik tahun 83, itu lagi puncak-puncaknya rezim Soeharto lho, jadi saya bisa bandingkan waktu zaman Orde baru dan Reformasi. Kalau sekarang saya sudah 30 tahun jadi jurnalis, itu 15 tahun pertama adalah zamannya Soeharto, dimana tidak ada kebebasan. Tentunya jauh lebih bagus sekarang, karena ada kebebasan kita bisa laksanakan tugas kita dengan baik.

Waktu zaman Soeharto, banyak batas-batasan yang membuat kita itu kurang dipercaya oleh masyarakat, “Oo..ini propaganda ! Ooo.. ini cuma corong daripada pemerintah !” , kredibilitas kita sangat rendah, tetapi sejak ada kebebasan itu kita bisa membangun kredibilitas kita, dan masyarakat bisa menilai media mana yang bagus dan media mana yang jelek.

 

Bagaimana The Jakarta Post bisa bertahan pada masa orde baru, sedangkan pada saat itu banyak media-media yang dibredel ?

            Aturan mainnya ada, itu melalui izin penerbitan. Kalau kita menyinggung perasaan Presiden, izin penerbitan itu dicabut dan kita dibredel, kita tutup toko. Kita sudah tahu batasan-batasan dimana yang kira-kira Pak Harto akan marah. Ada juga media yang bermain aman, jadi jangan ambil resiko, pokoknya yang bagus-bagus aja, tapi jangan menyelewengi. Tetapi Koran seperti The Jakarta Post dan Tempo, kita berada diperbatasan mana yang boleh, mengambil sedikit resiko. Dizamannya Soeharto itu tidak ada penyensoran, yang ada hanya mekanisme izin penerbitan, jadi kita harus melakukan sensor sendiri. Kita mengambil resiko menebak-nebak, mana yang boleh dan yang tidak, kita harus melihat mood daripada Soeharto,” Kayaknya moodnya lagi bagus nih, kita kritik dikit ga papa kali ya”, tapi kalau moodnya lagi jelek, sekitar Pemilu, kita juga hati-hati. Jadi harus pintar-pintarnya kita membaca situasi, itu yang kita lakukan.

 

Kenapa anda tertarik didunia Jurnalistik ?

Awalnya saya masuk itu kebetulan. Jadi saya lulusan S1 Ekonomi dari Inggris, kemudian saya pulang tahun 82, dengan pemikiran saya ingin bekerja di Bank Asing atau di perusahaan minyak. Kebetulan waktu saya mengirim puluhan lamaran itu saya lihat ada iklan dikompas, yang mencari reporter yang menulis disebuah Koran bahasa Inggris baru, saya kirim lamaran, kemudian saya dipanggil tes dan diterima, jadi sebelum perusahaan-perusahaan asing, perusahaan minyak, atau bank ini memanggil saya, saya sudah dapat tawaran dari The Jakarta Post dan saya coba-coba. Salah saya waktu itu coba-coba, keenakan, terus ga pernah mau lihat kebidang yang lain. Walaupun sudah tahu bahwa gaji Jurnalis itu rendah, tetapi cukuplah untuk membesarkan keluarga.

 

Adakah perbedaan menulis bahasa inggris biasa, dengan menulis bahasa Inggris Jurnalistik ?

Ada, dalam menulis biasa, tentu dengan bahasa sehari-hari, dalam jurnalistik itu kita bisa bercerita seringkas mungkin, terkadang kita dikasih ruang 200 atau 300 kata untuk menulis berita, kita harus pintar-pintar bisa menyampaikan pesan atau berita kita dalam batasannya itu. Disitulah diperlukan kreativitas kita sebagai wartawan bisa bercerita. Bahasa Jurnalistik harus jelas, tidak ada menimbulkan pertanyaan dan harus bisa disampaikan dengan kata-kata yang seringkas-ringkasnya.

 

Terus, ada perbedaan gak Penulisan Jurnalistik Bahasa Inggris dengan penulisan Jurnalistik Indonesia apa ?

            Ada, Perbedaannya cukup besar. Bahasa Inggris itu bahasa yang lebih exact, kalau hitam, hitam, kalau putih, putih. Bahasa Indonesia seperti Bahasa Perancis itu abu-abu, tidak pernah hitam atau putih tapi selalu abu-abu, gelap dikit atau agak terang. Jadi bahasa Indonesia cocok untuk bahasa puisi, novel. Tapi kurang tepat untuk bahasa ilmu. Dan itulah kenapa disebagian besar buku-buku mengenai ilmu ditulis dalam bahasa Inggris. Karena bahasa itu paling cocok.

 

Bagaimana mempertahankan Koran berbahasa Inggris, sedangkan sekarang banyak media baru muncul, tetapi tidak bertahan lama. Apalagi media berbahasa Inggris, bagaimana mempertahankan eksistensinya ?

Kalau untuk eksistensi sebagai Koran cetak, saya pikir semuanya akan mati ya dalam waktu mungkin lima atau sepuluh tahun. Tetapi kita bergerak dimedia yang berbahasa Inggris, pemberitaan mengenai Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Kita juga masuk ke Internet dan kita punya pembaca yang pertama-tama tentu pembaca orang asing yang minat terhadap Indonesia, mereka akan baca The Jakarta Post, apakah itu cetaknya atau onlinenya. Tapi kita juga berhasil membangun pembaca masyarakat Indonesia yang dalam kehidupan sehari-harinya menggunakan bahasa Inggris. Mereka juga suka dengan model pemberitaan The Jakarta Post, bahasa Inggris lebih jelas hitam putih. Jadi kita berhasil membangun pembaca yang cukup besar di Indonesia dan diluar negeri.

 

Bagaimana anda melihat tentang new media seperti facebook terhadap jurnalisme ?

Awalnya saya sama dengan temen-temen seprofesi. Ini temporer pasti akan hilang, karena kita melihat temen-temen yang bergerak di social media seperti facebook atau mereka yang mengaku jurnalis warga (Citizen Journalist), mereka tidak mempraktekkan ketentuan-ketentuan jurnalis yang kita lakukan. Kita pikir ini tidak akan laku dan mungkin dua atau tiga tahun akan hilang. Ternyata kita salah, 10 tahun kemudian facebook, twitter semakin laku dan sekarang menjadi sumber utama masyarakat, terutama generasi kalian. Mereka yang facebook, twitter, atau blognya yang populer itu karena melakukan praktek-praktek jurnalisme yang baik, dan mereka diterima oleh masyarakat, malah sering kali mereka dianggap lebih baik daripada kita-kita yang katanya professional dalam jurnalisme.

 

Bagaimana cara untuk bergabung dengan The Jakarta Post ?

            Setiap tahun kita merekrut sepuluh wartawan lulusan S1 dari seluruh Indonesia. Kita memasang iklan sekitar bulan Agustus-September. Sebenarnya kalian-kalian ini kalau sudah pernah bekerja di pers kampus punya keunggulan, karena itulah yang kami cari. Jadi yang kita tes yaitu ketrampilan menulis bahasa Inggris, karena kita Koran berbahasa Inggris TOEFLnya harus 550, kemudian tes sikap, psikotes, wawancara. Wartawan yang kita rekrut mendapatkan pendidikan wartawan satu tahun, dimana mereka digaji, dan gajinya lumayan tiga atau empat juta perbulan. Kemudian setelah satu tahun kalau memenuhi syarat, kita angkat jadi wartawan The Jakarta Post. Karena kita kasih pendidikan satu tahun, maka ada ikatan dinas dua tahun, sesudah itu mereka bebas.

Ada satu hal yang kita tidak tawarkan, tetapi mahasiswa di Jakarta pada tahu. Bahwa masuk The Jakarta Post sudah mendapatkan pelatihan menulis bahasa Inggris, dan kemudian sudah dua tahun kerja disana dengan praktek. Keterampilan menulis kita akan bagus, itu makanya banyak wartwan The Jakarta Post setelah tiga atau empat tahun bekerja mereka menagajukan beasiswa untuk diluar. Dari Pemerintah Amerika, Inggris, Australi, Jepang banyak tawaran. Hampir setiap wartawan The Jakpost yang mengajukan mereka dapat, mereka punya keunggulan. Kalau punya niat untuk melanjutkan S2 dan kondisi ekonomi tidak memungkinkan, kita cari beasiswa, Masuk The JP salah satu cara mendapatkannya.

*Terbit pada Rubrik Tamu di Majalah Media Mahasiswa AKLaMASI, Universitas Islam Riau.

 

Pengalaman Wawancara Editor in Chief The Jakarta Post

Malam ini ceritanya bongkar-bongkar file di hardisk. Scroll kebawah, ada folder “Launching buku Blur”. Suatu acara penutup pada agenda pelatihan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) yang di adakan Kelompok kerja Narasi Sumatera dan Forum pers mahasiswa Riau. Tiga tahun lalu aku dan temanku Jimmi berkesempatan menjadi peserta utusan dari Media mahasiswa Aklamasi UIR. Pembicara yang hadir pada saat itu tentunya Mas Imam Shofwan si penerjemah buku, Pemimpin redaksi Tribun Pekanbaru, dan Senior Editor of The Jakarta Post, Mas Endy M Bayuni.

Diakhir acara saya menemui Mas Endy meminta izin untuk wawancara ekslusif. Ketika wawancara berlangsung, teman-teman dari media lain yang melihat kami pun berdatangan mendekati dan merekam. “Duh, kok jadi gini” dalam hati saya. Wawancara ini seharusnya tidak boleh ada media lain, karena ini mau diterbitkan dalam edisi Majalah kami selanjutnya. “Seharusnya aku membawa mas Endi jauh dari keramaian, sehingga aku bisa mengajukan pertanyaan dengan lancar, dan Mas Endy bisa menjawab dengan maksimal,”penyesalan dalam hati.

img_1808

Sewaktu wawancara, aku menggunakan ponsel temanku, karena ponsel ku lowbat. Bang Yosa meminjamkan, “nih langsung pencet aja rekam”katanya. Selama wawancara, ponselnya bergetar, seperti ada bbm masuk.Kemudian bertubi-tubi ponselnya bergetar. Seperti seorang pacar yang kesal karena bbm nya tidak di balas-balas. Aku hiraukan saja, aku terus lanjutkan pertanyaan ke narasumber, mengamati setiap jawaban dari mas Endy, dan teman-teman lain mengamati dan ikutan terus merekam wawancaraku. Sesekali mereka melontarkan pertanyaan disela-sela, untungnya  mas Endy hanya fokus terhadapku, karena aku yang meminta izin di awal untuk mewawancarainya.  Wawancara pun selesai. Dan aku mengembalikan ponselnya Bang Yosa.

Aku : Bang tadi ponselnya bergetar-getar terus nih.

Bang Yosa : Tapi wawancaranya kerekamkan ?

Aku : Gatau, tadi aku biarkan aja

Kemudian ia memeriksa ponselnya, dan ternyata wawancara ku tidak terekam semua. Ketika bbm masuk, recordernya berhenti merekam.

Aku : “Yaaah, gimana doong ?, ”tanya ku dengan panik.

Saat itu aku langsung hilang akal. Bagaimana tidak, aku udah panjang lebar wawancara dengan narasumber, kemudian hilang gitu aja. Narasumbernya bukan orang biasa, datang dari jauh, dan tidak mungkin di ulangi lagi. Editor in Chief ! Editor ! The Jakarta Post nia !! ggrrhh…

Kemudian Bang Yosa bertanya.

Yosa : Tadi ada siapa aja disana? Tadikan ramai yang merekam kan ? Coba nanti minta hasil rekamannya mereka.

Aku : “oh iya,aku baru ingat.

Untung saja.

Dari kejadian ini aku belajar untuk menerima dan mensyukuri yang ada. Apa yang tidak kita inginkan, malah akan sebaliknya menjadi yang sangat kita butuhkan. Ternyata semuanya sudah di setting sama Allah. Dan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan ternayat itu bukan hanya Quote. Dan sampai akhirnya aku bisa menuliskan hasil wawancara ku dengan lancar, berkat teman yang ikut nimbrung merekam wawancaraku tadi. Hehe.. Thanks you so much !

Dan sampai akhirnya di puji oleh Mas Andreas Harsono, dari Human Right Watch. Dari hasil wawancaraku, katanya ada pertanyaan yang informasinya dia baru tahu dengan membaca tulisanku ini. Padahal ia pernah bekerja di Jakpost, dan berteman baik dengan Mas Endy. Kemudian  ia menitip salam kalau aku berjumpa Mas Endy. Haha.. entah kapan lagi aku berjumpa dengan Mas Endy, aku tertawa dalam hati.

Oh ya hasil wawancara ku dengan Senior editor nya The Jakarta Post terbit di Majalah AKLaMASI, 2013. Silahkan dibaca, Check this out !

What is Descriptive Text ?

Have you tried to discribe someone or something, guys? Hmm, maybe you have ever confused how to discribe it? Must tense do we use in describe? And maybe what is descriptive test itself? right?

First, Descriptive Text is . . . .
~> Descriptive text is a text that describes a particular person, place or thing.

Second, the purposes/functions  of  “Descriptive Text”
~> To describes a characteristic for person, place or thing in detail.

images-2

Third, the structure of  the text/generic structure.

1.      Identification.
In this part introduces to the subject of the description.

2.      Description.
In this part gives details of the characteristic features of the subject. It may describe              parts, qualities, characteristic, size, physical appearance, ability, habit, daily live, etc.

3.      Conclusion (optional).

Fourth, Language Feature.
~> Descriptive text use:
·        Simple present tense : If things/persons descried are still alive.
·        Simple past tense : If things/persons descried do not exist anymore.
·        Use noun.
·        Use kinds of adjective.
·        Use active verb.
·        Use allusion, imagination language.

Fifth, the example of Descriptive text.

My grandmother.

Identification ~> introduces the person described.
My grandmother is a very gentle, loving, and caring person. She never raises her voice at anyone. She has lived with me for as long as I can remember. She cakes care of me when mom and go to work.

Description ~> gives the details of the person described.
My grandmother is  a very neat and tidy person. She has  very dry grey hair which she usually pulls up into a bun. She has dark brown eyes that twinkle whenever she sees me. I hardly ever see them wet.

Grandmother likes to tell stories. She usually tells me brief stories of her childhood and expresses them very well with her tired, old, wrinkled hands. Sometimes, she also tells story about grandfather who has pass away. My dear grandmother always says good things about him. She once told me that he was the nicest person she had ever met.

Clonclusion ~> optional statement to sum up main ideas.
I really love  my grandmother

Download evaluation : Descriptive-text-evaluation

source : http://juliantluber.blogspot.co.id/2014/04/descriptive-text.html?m=1

Here is some example of describing person :