Pengalaman Wawancara Editor in Chief The Jakarta Post

Malam ini ceritanya bongkar-bongkar file di hardisk. Scroll kebawah, ada folder “Launching buku Blur”. Suatu acara penutup pada agenda pelatihan Diklat Jurnalistik Tingkat Lanjut (DJTL) yang di adakan Kelompok kerja Narasi Sumatera dan Forum pers mahasiswa Riau. Tiga tahun lalu aku dan temanku Jimmi berkesempatan menjadi peserta utusan dari Media mahasiswa Aklamasi UIR. Pembicara yang hadir pada saat itu tentunya Mas Imam Shofwan si penerjemah buku, Pemimpin redaksi Tribun Pekanbaru, dan Senior Editor of The Jakarta Post, Mas Endy M Bayuni.

Diakhir acara saya menemui Mas Endy meminta izin untuk wawancara ekslusif. Ketika wawancara berlangsung, teman-teman dari media lain yang melihat kami pun berdatangan mendekati dan merekam. “Duh, kok jadi gini” dalam hati saya. Wawancara ini seharusnya tidak boleh ada media lain, karena ini mau diterbitkan dalam edisi Majalah kami selanjutnya. “Seharusnya aku membawa mas Endi jauh dari keramaian, sehingga aku bisa mengajukan pertanyaan dengan lancar, dan Mas Endy bisa menjawab dengan maksimal,”penyesalan dalam hati.

img_1808

Sewaktu wawancara, aku menggunakan ponsel temanku, karena ponsel ku lowbat. Bang Yosa meminjamkan, “nih langsung pencet aja rekam”katanya. Selama wawancara, ponselnya bergetar, seperti ada bbm masuk.Kemudian bertubi-tubi ponselnya bergetar. Seperti seorang pacar yang kesal karena bbm nya tidak di balas-balas. Aku hiraukan saja, aku terus lanjutkan pertanyaan ke narasumber, mengamati setiap jawaban dari mas Endy, dan teman-teman lain mengamati dan ikutan terus merekam wawancaraku. Sesekali mereka melontarkan pertanyaan disela-sela, untungnya  mas Endy hanya fokus terhadapku, karena aku yang meminta izin di awal untuk mewawancarainya.  Wawancara pun selesai. Dan aku mengembalikan ponselnya Bang Yosa.

Aku : Bang tadi ponselnya bergetar-getar terus nih.

Bang Yosa : Tapi wawancaranya kerekamkan ?

Aku : Gatau, tadi aku biarkan aja

Kemudian ia memeriksa ponselnya, dan ternyata wawancara ku tidak terekam semua. Ketika bbm masuk, recordernya berhenti merekam.

Aku : “Yaaah, gimana doong ?, ”tanya ku dengan panik.

Saat itu aku langsung hilang akal. Bagaimana tidak, aku udah panjang lebar wawancara dengan narasumber, kemudian hilang gitu aja. Narasumbernya bukan orang biasa, datang dari jauh, dan tidak mungkin di ulangi lagi. Editor in Chief ! Editor ! The Jakarta Post nia !! ggrrhh…

Kemudian Bang Yosa bertanya.

Yosa : Tadi ada siapa aja disana? Tadikan ramai yang merekam kan ? Coba nanti minta hasil rekamannya mereka.

Aku : “oh iya,aku baru ingat.

Untung saja.

Dari kejadian ini aku belajar untuk menerima dan mensyukuri yang ada. Apa yang tidak kita inginkan, malah akan sebaliknya menjadi yang sangat kita butuhkan. Ternyata semuanya sudah di setting sama Allah. Dan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dan ternayat itu bukan hanya Quote. Dan sampai akhirnya aku bisa menuliskan hasil wawancara ku dengan lancar, berkat teman yang ikut nimbrung merekam wawancaraku tadi. Hehe.. Thanks you so much !

Dan sampai akhirnya di puji oleh Mas Andreas Harsono, dari Human Right Watch. Dari hasil wawancaraku, katanya ada pertanyaan yang informasinya dia baru tahu dengan membaca tulisanku ini. Padahal ia pernah bekerja di Jakpost, dan berteman baik dengan Mas Endy. Kemudian  ia menitip salam kalau aku berjumpa Mas Endy. Haha.. entah kapan lagi aku berjumpa dengan Mas Endy, aku tertawa dalam hati.

Oh ya hasil wawancara ku dengan Senior editor nya The Jakarta Post terbit di Majalah AKLaMASI, 2013. Silahkan dibaca, Check this out !

Advertisements