Di Balik Bedeng Badak Kanan

img_5384Kecamatan Tenayan Raya, Kelurahan Sail, tepatnya di jalan Badak kanan adalah salah satu tempat sekumpulan bedeng bersarang. Bedeng berukuran 10 meter persegi tersebut setiap hari digunakan untuk kegiatan produksi batu bata merah cetak tangan, sejenis home industry. Kebanyakan pemilik dan pengrajin disana adalah suku nias. Pak Seryanus salah satu pemilik ledeng, bersama istrinya sudah dua tahun bergelut dengan tanah liat disana, mereka tinggal satu atap dengan bedeng, dengan beralas dan berdindingkan teriplek disebelah tungku tempat batu bata biasa dibakar.

Batu bata sekali bakar bisa sebanyak 90.000 buah, proses pembakaran selama empat hari empat malam dalam suhu tinggi, sehingga batu bata mengeras. Dalam kondisi normal bisa terjual dalam dua hari. Sekali bakar, batu bata membutuhkan kayu bakar sebanyak dua mobil truk, biasanya menggunakan jenis kayu akasia. Ukuran tungku pembakaran sekitar lima meter persegi. Kayu dimasukkan melalui tiga lubang yang dibuat dibawah tungku sekaligus sebagai tempat keluarnya asap saat terjadi pembakaran batu bata yang telah disusun di atasnya.
Proses pembuatan batu bata, yaitu dengan menggunakan tanah liat yang diambil dari sekitar bedeng, tanah liat dibeli terlebih dahulu oleh pemilik ledeng dari pemilik tanah, kemudian dicampur dengan tanah, dimasukkan ke dalam lubang besar yang berisi air, setelah itu kerbau dimasukkan kedalam lubang agar dirancah, sampai pukul empat sore kerbau diangkat, keesokan harinya baru tanah bisa diangkat dan dicetak menjadi batu bata, dijemur dan dibakar.
Tetapi seiring berkembangnya teknologi dalam pembangunan, sekarang sudah bisa digunakan mesin untuk mencetak batu bata sehinggga proses pengerjaan bisa lebih efektif dan efisien.

Advertisements

Narasi Sumatera, Pekanbaru

Protes Penggusuran Pedagang Kecil

Oleh Tahnia Dwi Sari

tahnia dwi sari“SATU! Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh!” suara berhitung dengan lantang bergantian terdengar di depan taman kota dekat jalur hijau, Jalan Cut Nyak Dien, Pekanbaru. Ternyata ada sekelompok orang berseragam berbaris teratur yang bertuliskan POL PP (Polisi Pamong Praja) di tameng yang diletakkan teratur di depan mereka.

Cut Nyak Dien jalan yang cukup besar diapit sisi kanan Gedung Badan Perpustakaan Wilayah, Arsip dan Dokumentasi, dengan bangunan Rehal—tempat meletakkan kitab suci bagi umat Muslim—dan di sebelah kiri ada Kantor Gubernur Riau yang jika kita lihat pada malam hari biasanya memberikan keindahan bagi setiap mata yang melihatnya. Cahaya itu berasal dari lampu-lampu setiap ruang di kantor yang menembus dinding berbahan kaca, tetapi pada malam itu tampak gelap.

 Di sebelah kanan Kantor Gubernur, di Jalan Cut Nyak Dien ada sebuah tugu count down Pekan Olahraga Nasional (PON). Tidak jauh dari SATPOL PP berbaris, saya melihat sekitar puluhan para Pedagang Kaki Lima (PKL) berkumpul. Kali ini mereka tidak membawa dagangannya. Ini terjadi sejak hari Rabu tanggal 30 Januari 2012 Satpol PP melakukan penertiban untuk para PKL agar tidak berjualan di sekitar jalur hijau di Jalan Cut Nyak Dien.

 Yusamra Fadli salah satunya. Saya sempat menghampirinya, ketika ia berada di pinggir jalan menunggu teman-teman PKL lainnya yang sedang berkumpul di tengah jalan. Ia menggunakan sepeda motor berboncengan dengan teman PKLnya.  Ia sudah beberapa hari ini tidak berjualan kaset di area taman kota. Mereka sempat dipindahkan ke Pusat Jajanan Selera Rakyat (Pujasera) Jalan Arifin Ahmad dulu, karena ada penertiban kota sewaktu Riau menjadi tuan rumah (PON) tahun 2012. Tetapi hanya bertahan selama 6 bulan. “Pengelolaan pasarnya ga bagus, lagian orang sepi disana,” ujar Yusamra.

Sewaktu di sana banyak sekali masalah yang mereka temui, masalah pembayaran tempat, masalah kutipan. Kalau di sini mereka tidak ada kutipan, hanya uang kebersihan yang setiap pedagang membayar seribu rupiah setiap hari. Terkadang juga ada kutipan dari Kecamatan Sukajadi yang setiap saat meningkat bahkan sampai tiga ribu rupiah setiap hari. “Kami disini semata-mata untuk mencari hidup, disini kami pun bukan merampok,” sahut temannya yang dari tadi memperhatikan saya mewawancarai Yusamra.

Kemudian saya melihat di sisi depan Satpol PP ada sekumpulan orang sekitar belasan, karena penasaran saya langsung mendekati mereka. Setelah diwawancara ternyata mereka berasal dari Ormas Pemuda Pancasila. “Kami sebagai ormas Pemuda Pancasila, mendukung penuh program pemerintah,” ujar ajudan ketua dewan pimpinan cabang Pemuda Pancasila kecamatan Tenayan Raya.

Pukul setengah sepuluh Satpol PP dan Polisi meninggalkan taman kota, karena sudah tidak ada lagi terlihat PKL yang berkeliaran, situasi sudah aman dan sepi. Mereka pergi dengan meninggalkan sampah-sampah yang berserakan, seperti sampah plastik, bekas nasi bungkus, kotak rokok, aqua gelas, dan lain-lain.[]

* Peserta workshop Lancang Kuning Berlayar Narasi utusan Media Mahasiswa Aklamasi UIR